Melejitkan Potensi Anak Dengan Bermain

Sebelum dilahirkan anak sudah beriman kepada Allah.

Firman Allah : Dan ingatlah ketika tuhanMu mengeluarkan anak-anak adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berimann bukankah aku TuhanMu ? mereka menjawab : Betul engkau tuhan kami, kami menjadi saksi(QS Al A’raf :172)

Menurut berbagai hasil studi, masa usia dini merupakan pondasi awal bagi pertumbahan dan perkembangan anak selanjutnya. Anak lahir telah dibekali Allah dengan potensi genetis tetapi lingkungan member peran yang sangat besar dalam pembentukan sikap, kepribadian dan pengembangan kemampuan anak.

Anak lahir dibekali Allah dengan bermilyar neuron atau sel saraf dalam otaknya, jika neuron- neuron yang tidak mendapat stimulasi atau rangsangan akan musnah lewat proses ilmiah. Dan ransangan akan sangat efektif ketika anak masih berusia dini dimana sel otak berkembang secara luar dewasa akan membuat sambungan antar sel. Itulah sebabnya mengapa usia dini itu merupakan masa yang sangat  menentukan.

Untuk mendapatkan stimulasi yang optimal diperlukan lingkungan buatan yang dirancang secara sadar dan terencana dalam rangka mengembangkan potensi kiecerdasan anak, yaitu pendidikan. Pertanyaanya pendidikan seperti apakah yang tepat? Perlu adanya sebuah kerjasama yang sinergis antara orangtua dan pihak sekolah. Orang tua dan guru diharapkan mampu memahami anak bukan hanya sabar, tetap juga memahami:

  • anak sebagai individu yang unik
  • anak memiliki ritme perkembangan yang bebeda
  • anak sebagai pelaku utama
  • anak sebagai teman bekerjasama
  • anak sebagai komunikator
  • anak perlu berkembang menjadi manusia yang mudah menyesuakan diri dan memahami diri serta lingkunganya

Anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri. Guru , tentu saja , bisa menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan –bahan yang tepat, tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, yang terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, ia harus membangun pengertian sendiri, ia harus menemukannya sendiri.

Ada tiga jenis permainan yang bisa dimainkan anak. Berikut ulasannya.

Main Sensorimotor atau fungsional

Anak usia dini belajar malalui panca indera dan melalui hubungan fisik dengan lingkungan mereka. Kebutuhan sensorimotor anak didukung ketika mereka disediakan kesempatan untuk berhubungan dengan bermacam-macam bahan dan alat permainan, baik di dalam maupun di luar ruangan. Kebutuhan sensorimotor anak didukung ketika mereka diberi kesempatan untuk bergerak secara bebas. Kebutuhan bermain sensorimotor anak didukung bila lingkungan menyediakan kesempatan untuk berhubungan dengan banyak tekstur dan berbagai jenis bahan bermain yang berbeda yang mendukung setiap perkembangan anak.

Pengalaman main sensorimotor pada anak usia dini merupakan rangsangan untuk mendukung proses kerja otak dalam mengelola informasi yang didapatkan anak dari lingkungan saat bermain, baik bermain dengan badannya ataupun dengan berbagai benda di sekitarnya.

Main Pembangunan: sifat cair/bahan alam dan terstruktur

Main pembangunan dibahas dalam kerja Jean Piaget (1962), Sara Smilansky (1968), dan Charles dan Mary Wolfgang (1992), Piaget menyatakan bahwa kesempatan main pembangunan membantu anak untuk mengembangan keterampilan yang akan mendukung keberhasilan sekolahnya dikemudian hari.

Suatu tahap yang berkesinambungan dari bahan yang paling cair seperti air, ke yang paling terstruktur seperti puzzle.

Cat, krayon, spidol, paly dough, air, pasir dianggap sebagai bahan main pembangunan sifat cair atau bahan alam.

Balok unit, lego, balok berongga, dan bahan lainnya dengan bentuk yang telah ditentukan sebelumnya, yang mengarahkan bagaimana anak meletakkan bahan-bahan tersebut bersama menjadi sebuah karya, dianggap sebagai bahan main pembangunan yang terstruktur. Anak dapat mengekpresikan

Main Peran Mikro dan Makro

Manusia membangun kemampuan untuk menghadapi pengalaman dengan membuat suatu keadaan yang semestinya dan menguasai kenyataan melalui ujicoba dan perencanaan di dalamnya. Menurut Erickson, anak menyusun hal ini melalui kegiatan bermain. Dalam keadaan yang ia buat sendiri, anak memperbaiki kesalahannya dan memperkuat harapan-harapannya. Anak mengantisipasi keadaan-keadaan masa depan melalui ujicoba-ujicoba ini.

Erickson menjelaskan dua jenis main peran kepada kita. Pertama main peran mikro dan kedua main peran makro. Selama tahap awal main peran anak melakukan percobaan dengan bahan dan peran. Sebagai contoh, mereka memakai baju dan melepaskannya, mendorong kereta barang dan menarik gerobak, membawa boneka bayi mengelilingi ruangan dengan sepatu hak tinggi, membuka dan menutup lemari dapur rumah mainan dan mengosongkan/mengisi rak mainan. Saat anak berkembang melalui pengalaman main peran, mereka juga “memeriksa egonya”, belajar menghadapi pertentangan emosi, memperkuat dirinya sendiri untuk masa depan, menciptakan kembali masa lalu dan mengembangkan keterampilan khayalan. Hal ini merupakan latihan untuk pengalaman-pengalaman di dunia nyata.

Main Peran Mikro, bahan main berukuran kecil, contoh:

  • Rumah boneka dengan perabot dan orang-orangan
  • Rangkaian kereta dengan jalan dan kereta mobil
  • Lapangan udara dengan pesawat dan mobil-mobil truk
  • Kebun binatang dengan binatang-binatangan liar
  • Jalan kota dengan orang-orang dan mobil-mobilan

Main Peran Makro, alat-alat berukuran sesungguhnya dan anak-anak dapat menggunakannya untuk menciptakan dan memainkan peran-peran. Contoh:

  • Dokter, perawat
  • Polisi dan pemadam kebakaran
  • Pembawa surat (tukang pos)
  • Sekretaris
  • Penjual barang kelontong
  • Penjual bunga

Semoga dengan stimulasi mainan yang tepat, dapat melejitkan potensi kecerdasan anak kita. Dan kuncinya baik orangtua maupun guru turut berperan serta dalam menciptakan lingkungan main yang kondusif bagi anak.

(Disarikan dari berbagai sumber)

Oleh: Eka Mei Sukaisih, SE
(Kepala Sekolah TK IT Insan Mulia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *